Terbenam Putih Abu-abu Terbit dunia baru
Oleh : Dwinov Safhira Azahra
Waktu pulang sekolah telah tiba, menandakan sudah masuk waktu sholat dzuhur yang harus dilaksanakan secara berjama’ah di musholah lantai satu. Selesai sholat para siswa dan siswi pulang menuju rumahnya masing – masing, serta para santri kembali ke kamar untuk menyiapkan aktifitas selanjutnya, tetapi ada satu perempuan yang memilih tetap berada di dalam musholah dengan posisi bersimpuh masih berdo’a dengan khusyu’ hingga tanpa sadar ia meneteskan air mata. Ia bernama Nina Anggraini, seorang santri putri Yayasan Perguruan Islam Al-kasysaf 03 yang memiliki niat serta ikhtiar yang luar biasa untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi dengan berharap mendapatkan beasiswa.
Dalam hitungan bulan, pendaftaran perguruan tinggi dengan berbagai macam jalur sudah dibuka, sehingga membuat perasaan nina gundah dan ragu karena khawatir tidak keterima dari beberapa jalur tersebut terutama jalur PBSB. Nina tidak suka dengan keadaan seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Situasi ini memang sudah mutlak harus dilalui sebagai jembatan proses menuju pendewasaan.
PBSB merupakan Program Beasiswa Santri Berprestasi yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama, yang mana biaya kuliah hingga uang saku ditanggung sampai lulus dengan persyaratan tertentu. PBSB ini tentunya memiliki tujuan agar para santri lebih mumpuni dalam kapasitas dan keilmuannya. Seleksi PBSB dilakukan melalui sistem terbuka dan berbasis elektronik.
Sebelum melangkah mendaftarkan diri diberbagai jalur perguruan tinggi, nina meminta pendapat serta restu dari kedua orang tuanya terutama restu ibu. “Ma, pak kalo nina kuliah ngerestuin dan ngedukung ngga?” tanya nina. “Bukannya mama ga ngedukung na, tapi mama gabakal sanggup kalo harus biayain kuliah kamu nanti. Tapi kalo kamu kuliah dapet beasiswa 100%, mama bakal restuin dan mama bakal dukung kamu. Mama bangga sama kamu na” tegas orang tua nina.
Mendengar jawaban itu pun nina semakin gelisah dan sedih, ia bingung apa yang harus ia lakukan jika tidak mendapat beasiswa. Rasa keinginan melanjutkan pendidikannya yang sangat tinggi itu dengan alasan latar belakang keluarga nina belum ada yang sarjanah satupun, sehingga membuat nina ingin menjadi gerbang untuk adiknya, keponakan, dan saudara- saudara yang lain agar termotivasi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tunggi. Alasan itulah yang akhirnya membuat ia semangat dan mengalahkan rasa takutnya untuk melangkah lebih jauh.
Nina mulai mendaftarkan dirinya di berbagai universitas lewat beberapa jalur, berharap ia diterima disalah satu Universitas yang telah ia pilih. Ia tidak menghirauakan ucapan orang tuanya mengenai ketidak sanggupan untuk membiayai kuliahnya. Menurut nina coba-coba daftar dulu aja, urusan keterima atau tidak dan lain-lain biar nanti ia pikirkan kembali. Pemikirannya yang sangat optimis bahwa semua yang terjadi di hidupnya merupakan takdir dari Allah SWT yang sudah disiapkan jalannya.
Sekian banyak jalur yang ia coba, tidak ada satupun universitas yang menerimanya. Perjuangan yang telah ia lakukan untuk masuk keperguruan tinggi serta penantiannya berhari-hari berujung membuatnya kecewa. Nina merasa pesimis sehingga memutuskan untuk membuat rencana kedua, yaitu dia akan bekerja terlebih dahulu, kemudian akan melanjutkan pendidikannya di tahun yang akan datang.
Jalur PBSB belum mengumumkan hasil seleksinya, ia sudah tidak berharap apa-apa lagi. “na nanti kalo hasil pengumumannya keluar, bukanya bareng mama ya” ajak mama nina. “Aku lewat jalur umum aja gaada yang keterima, apa lagi PBSB. Itu kan isinya orang-orang pinter semua, aku gaakan lolos.” Keluh nina. Padahal saat itu masih ada satu jalur lagi yang belum ia coba, yaitu UMPTKIN. Tetapi dia lebih memilih untuk tidak ikut karena jalur itu formulirnya berbayar. Ia sudah tidak memikirkan rencana awal dan cenderung fokus ke rencana kedua.
Ternyata keluh nina hanya terucap di bibir saja, hatinya masih sangat mengharapkan beasiswa PBSB itu. Di hari – hari terakhir menuju pengumuman hasil seleksi PBSB, yang hanya bisa ia lakukan yaitu berdoa dan tawakkal saja. Apapun hasilnya ia sudah berjanji terhadap dirinya sendiri untuk berlapang dada. Di yakini oleh beberapa teman dan kaka kelasnya yang diterima PBSB tahun sebelumnya, nina pun kembali optimis dan yakin bahwa ia bisa diterima.
Sangking lamanya menunggu pengumuman hasil seleksi, nina pun lupa kalo masih ada harapan untuk berkuliah. Ia menajalani aktifitas di pondok pesantren seperti biasa sekolah, ngaji, ekskul dan mulai melupakan hal yang membuatnya setress. Sampai pada akhirnya ketika nina sedang berjalan di lorong, teman – temannya menghampiri dan memberi ucapan selamat “selamat ya nina kamu keterima” ucap teman-teman nina. Pada saat itu nina heran, ucapan selamat untuk apa? “kamu keterima PBSB” tegas salah satu temannya. Ia pun perasaannya campur aduk, ada senang, sedih, takut karena memikirkan setelah lolos ini apakah ada test lagi atau tidak? Tetapi ternyata tidak ada. Ia ingat memiliki janji kepada mamanya untuk membuka pengumuman hasil PBSB bersama. Nina pun memberi kabar bahagia ini kepada orang tuanya dan semua orang yang berada disisi nina merasa bangga terhadap apa yang sudah ia capai.
Kita bisa ambil pembelajaran serta filosofi dari kisah Nina, bahwasannya sikap tidak berani menantang ketidak mungkinan itu adalah ilmu yang tidak kita kuasai yang menjelma di dalam diri kita sehingga menjadi sebuah ketakutan yang besar. Apapun yang kita lakukan hendaknya dapat bermanfaat bagi diri kita sendiri, bagi bangsa, dan bagi makhluk hidup yang berada di bumi ini.
